Jumat, 06 April 2012

Melukis Jogja


Jadi penggemar di Facebook ...
Bagikan artikel ini ..
Bookmark and Share
Helloo apa khabar ? Hope you all are doing well.

clip_image001Jogja semakin panas dari hari ke hari, dan saya pun semakin gosong dari hari ke hari. Sebagai akibat terbakar sinar matahari yang begitu panas menyengat, saya terpaksa mengunjungi dokter kulit : sunburn ! Ih, saya malu banget…….orang Indonesia kok bisa sunburn cuma gara-gara keasyikan naik sepeda motor tanpa jaket ( habis panas banget sih ). Tapi saya sekarang benar-benar kapok naik sepeda motor tanpa jaket.
Siang itu, masih tetap panas, saya ajak adik tiri saya keliling kota, ketimbang ngantuk di rumah.
Meski enggan, dia bersedia juga memboncengkan saya ( tentu saja setelah saya paksa dan ancam, hehehee…)
Tujuan utama saya sebenarnya adalah tanpa tujuan, eh, maksudnya saya benar-benar hanya ingin membuang rasa bosan di rumah. Jadi meski pun panas menyengat, saya nekat juga pergi, tentu saja dengan membawa kamera kecil kesayangan yang tak pernah lepas dari tas saya kemana pun saya pergi.
Sepanjang perjalanan , saya menemukan kenyataan yang menarik minat saya. Mural ! Yup, lukisan dinding
.
Semenjak dulu sebenarnya sudah banyak mural di sepanjang jalan, namun dulu, seingat saya, mural bukanlah mural seperti sekarang. Mural pada masa dulu lebih cenderung bikin kotor pemandangan. Saya lalu ajak adik tiri saya untuk berburu mural.
clip_image002 clip_image003
Ternyata ada begitu banyak mural bertebaran di Jogja ini. Hampir di setiap sudut, di setiap dinding dan tembok, tak ada seinci pun yang terlewat dari tangan-tangan kreatif pelukis mural. Tak perduli apakah itu tembok kota, dinding rumah, sekolah, kantor maupun dinding/tembok lapangan olah raga ( stadion ). Saya menyusuri sepanjang jalan, mulai dari jalan Bantul, Jalan Bugisan, terus ke arah Pojok Beteng Timur, menuju Jalan Taman Siswa, Jalan Kusumanegara, bahkan sampai ke arah jalan Solo dan berakhir di depan mall Galeria. Pulangnya melewati jalan layang depan bioskop Mataram, terus melalui stadion Kridosono. Yang tahu Jogja pasti tahu pasti arah perjalanan saya, sedang yang tidak tahu, ya bolehlah, kapan-kapan kalau ke Jogja saya tunjukkan, hehheee…
clip_image004 clip_image005
Sepanjang jalan itu, saya seperti baru menemukan hal yang sangat menarik. Ada berbagai jenis mural. Ada yang berifat sindiran, kritik sosial, ajakan untuk hidup sehat, keluhan rakyat kecil bahkan ada pula yang berbentuk komik. Mural di Jogja tidak hanya dilukis dalam bentuk aliran abstract seperti yang sering kita lihat di luar Indonesia, namun ada kalanya juga berbentuk gambar dan tulisan-tulisan biasa, bukan kaligrafi.
Sebagian merupakan pesan sosial, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Jawa dan bahkan juga dalam bahasa Inggris.
clip_image006
Coretan-coretan dinding yang dulunya merusak dan mengotori kota, sekarang menjelma menjadi lukisan yang menceritakan banyak kisah. Betapa kreatifnya sang pencetus ide ini. Pada masa dulu, seingat saya, bila seseorang atau sekelompok orang mencoret dinding dengan cat, mereka akan menuliskan nama/identitas dari kelompok-kelompok anak muda tertentu seperti Joxin, Klapret, dan nama-nama gank lainnya yang sempat merebak saat itu. Selain itu juga, seperti jamaknya di film-film, dinding juga arena yang tepat untuk menggambarkan jantung hati ditembus anak panah, dengan tulisan nama seseorang atau dua orang, misalnya Paijo Love Anita, Dina Aku cinta Kamu, Tinaku Samsul Mencintaimu dan lain sebagainya. Ada kalanya juga simbol patah hati, dengan gambar jantung retak dan tulisan seperti, I hate u but i miss u ( ih ! ), Kenapa Abang Kau Tinggalkan Juwitaku ? dan lainnya. Banyak sekali coretan-coretan tidak karuan yang sangat merusak mata. Selain membuat kotor juga kadang kala seenaknya saja mencoret di tembok-tembok rumah (biasanya yang jadi korban adalah tembok rumah yang belum selesai dibangun).
Saya masih ingat kalau tidak salah, waktu itu saya sedang berada di Jogja, ketika untuk pertama kalinya ada lomba melukis dengan bidang lukisnya adalah dinding stadion olah raga sepak bola Kridosono. Dindingnya yang luas itu di beri batas-batas ukuran tertentu, bagi tiap peserta lomba. Lomba diadakan untuk umum. Saat itu saya masih kecil, jujur saja saya lupa tahun berapa, tapi seingat saya, waktu itu saya SMP. Saya nonton lomba lukis itu dengan sepupu dan teman-teman saya. Itu kali pertama di Jogja ada lomba melukis di dinding. Lukisannya pun besar-besar, temanya adalah tentang ajakan untuk hidup sehat .
clip_image007
Lukisan-lukisan tersebut masih ada hingga kini. Tak hanya di tembok-tembok yang luas, namun juga di gang sempit menuju ke arah kampung, di tengah-tengah sawah, di bagian atas bangunan yang sangat sulit dijangkau kalau tidak menggunakan tangga yang panjang, di tengah-tengah kota yang ribut dan padat lalu lintasnya.
Jogja memang pantas disebut sebagai kota budaya, kota pelajar, dan kota yang penuh kreatifitas. Dari coretan-coretan yang menganggu pemandangan kota menjelma menjadi karya cipta seni yang bagus. Memang tidak semua mural bercita rasa seni, ada kalanya juga lukisannya jelek, komposisinya amburadul, namun toh masih bisa dinikmati sebagai karya kreatif.
clip_image009clip_image008
Sebagian lagi mengandung kata-kata yang lucu namun bagus seperti misalnya : “ So Sweat So Good, Mother Told Me Onthel Good For Me “. Lainnya adalah : “ Carilah Pacar Bomber “, “ Sik Sik Sik Rasah Kesusu “ (sebentar, sebentar jangan terburu-buru) yang merupakan ciri khas orang Jogja, dengan prinsip “Alon-alon waton kelakon”nya (pelan-pelan asal kesampaian). Ada lagi yang berifat membangkitkan semangat seperti misalnya : “ Masa Laloe Biarlah Berlaloe bersama Waktoe, Angkat Kepala Tetap Semangat Dan Optimis Untuk masa Depan yang lebih Baik “ Bahkan larangan “ Jangan Kencing Di sini “ pun di lukiskan dengan lucu, begitu pula tulisan “ Jangan Asal Corat-Coret “ di gambarkan di tembok sebuah gang sempit.
clip_image011
clip_image010
Pada akhirnya, menjelang sore, saat matahari sudah tidak lagi menyengat kulit, kami kembali ke rumah. Adik tiri saya pun turut gembira dengan perjalanan singkat ini.
Saya sungguh bersyukur, kebosanan yang sempat menyesatkan pikiran dibayar lunas dengan petualangan sederhana yang membawa hasil. Saya sungguh senang melihat pemandangan yang sebenarnya sangat biasa tetapi menjadi luar biasa. Jalan-jalan yang biasa saya lewati ternyata mempunyai cerita yang panjang dan beraneka ragam. Saya bisa membacanya dengan puas di sepanjang jalan. Kreatifitas, tidak hanya boleh disimpan di otak saja. Kreatifas yang bersifat positif, mampu membuat yang tercampak menjadi bermanfaat. Ungkapan isi hati yang pada awalnya dicoretkan dengan bentuk yang tidak jelas dan tanpa bentuk, menjadi karya seni yang mewarnai kota Jogja.
Dan saya pun baru menyadari, bahwa di beberapa tempat, lukisan itu diperbaharui dengan lukisan yang lain. Hal ini saya temui di tembok jalan layang Mataram, ketika beberapa hari yang lalu saya melewatinya, saya melihat ada sekelompok anak muda yang sedang mengerjakan mural di tempat itu. Gambar yang lama telah dihapus, entah dengan cara apa. Saya punya kesempatan sebentar untuk melihatnya, karena saat itu ada kereta api yang melintas, sehingga saya memiliki cukup waktu untuk memperhatikannya. Ah, ternyata, kegemaran para anak muda untuk mencoret-coret tembok mendapat sarana yang sesuai. Yang negatif menjadi positif. Alangkah bagusnya solusi ini.
Sungguh menyenangkan, di tengah-tengah sumpegnya kota yang panas dan berdebu, kita masih bisa tersenyum membaca dan mengamati mural yang nyaris ada di setiap tempat di Jogja.

Dikutip dari :
 

tidak mendapatkan yang anda cari ? coba lewat mesin pencari :

0 komentar:

Posting Komentar